Keinginan Untuk S2 di Luar Negeri

Sudah hampir dua bulan sejak saya diwisuda dari kampus saya dan sampai sekarang masih bingung untuk menentukan apakah mengambil S2 atau bekerja. Masalah seperti ini memang bukan hal yang aneh bagi mereka yang telah lulus kuliah. Mungkin juga mereka tidak hanya bingung tentang S2 atau bekerja, tapi juga kepikiran untuk menikah. Tapi kalau soal nikah, saya tidak terlalu kepikiran. Saya masih ingin mengerjakan banyak hal. Mencari prestasi, baik di dunia akademik dan/atau di dunia kerja, menemani ibu saya di hari tuanya, dan masih banyak lagi. Jadi, sorry girls, I’m free but it doesn’t mean I want to be‘trapped’ in such of relationship :v hehehehe…
Sesuai dengan judulnya, banyak hal yang ingin saya utarakan mengenai kuliah di luar negeri. Siapa sih yang gak ingin kuliah di luar negeri? Suasana baru, pengalaman baru yang mungkin gak semua orang bisa merasakannya, mendapat teman baru dan tentu saja ilmu yang melimpah di luar sana yang menunggu untuk dicari dan dieksplorasi. Tapi ya saya memang perlu becermin diri juga. Sebagai tamatan S1 dengan IP yang walaupun sangat memuaskan dan nilai PTESOL yang nyaris 550, saya sedikit ragu, apa iya semua yang saya lakukan membuat saya cukup pantas untuk kuliah di luar sana? Saya memiliki cukup prestasi, tapi apakah prestasi saya mampu menutupi kekurangan saya dalam memperoleh beasiswa setenar LPDP atau bahkan Erasmus+ mungkin? Banyak hal lainnya yang membuat hati saya galau, lebih galau dari mencintai wanita yang sama selama bertahun-tahun tapi tidak mampu mengutarakannya sehingga terus tersimpan dalam hati :v wkwkwk Becanda :3
Ditengah kegalauan dalam hati, bermimpi tetep boleh dong :D Gak ada yang memberi larangan untuk bermimpi, kecuali bermimpi sambil sleepwalking. Karena saya lulusan program studi matematika, maka tentu saja kampus-kampus impian saya ini memiliki program Master matematika. Diantaranya memiliki bidang riset yang menjadi impian saya karena sesuai dengan skripsi saya dan yang lainnya karena memilki bidang riset yang langka karena di Indonesia jarang atau bahkan tidak dieksplorasi. Tanpa banyak basa basi saya akan memaparkan beberapa universitas impian saya.
1. University of Copenhagen, Denmark
Koebenhavns-Universitet-2012.
Universitas Copenhagen menjadi universitas yang menjadi impian saya karena universitas ini memiliki bidang riset yang menjadi incaran saya yaitu Noncommutative Geometry. Benda apa itu Noncommutative Geometry? Noncommutative Geometry atau Geometri Nonkomutatif adalah subjek matematika yang mempelajari aspek geometri dari aljabar nonkomutatif. Benda apa lagi itu aljabar nonkomutatif? Well, aljabar nonkomutatif adalah aljabar asosiatif yangmana perkaliannya tidak komutatif. Benda apalagi itu aljabar asosiatif? Tunggu dulu, kalau mau ngomongin matematika jangan di blog ini, tapi blog saya yang satunya lagi –> http://mathematicsmind.blogspot.co.id/ hehehe. Mengapa saya mengincar topik ini? Semua itu bermula disaat negara api menyerang saya mengerjakan skripsi saya yang terdiri dari 2 atau 3 suku kata yang saking pendeknya lebih mirip judul buku teksbook dibandingkan judul skripsi, yaitu Bimodul-C* Hilbert. Ih wow benda apa itu Bimodul-C* Hilbert? Jadi gini, Bimodul-C* Hilbert itu… Wait, daripada jelasin panjang-panjang mending baca sendiri aja disini: https://www.researchgate.net/profile/Raden_Suryo_S/publication/281361410_Bimodul-C*_Hilbert/links/55e3da8908aede0b5733d07a.pdf :D. Selain karena topik ini menjadi impian dan incaran saya, Universitas Copenhagen menjadi universitas impian saya karena disana juga ada bidang riset Quantum Mathematics (Matematika Kuantum). Lho kok? Bukannya mekanika kuantum itu dipelajarinya sama anak fisika ya? In fact, matematikawan di luar sana juga banyak yang menerapkan matematika diluar bidang matematika, salah satunya ya mekanika kuantum ini. Kenapa saya menyukai topik ini? Karena saya memiliki hubungan gelap cinta tak terbalas interest dengan fisika, bahkan sebelum saya menyukai matematika. Tapi, karena saya sekarang sudah menjadi sarjana matematika (S.Mat, iya beneran gelarnya bukan S.Si lagi :v) dan kebetulan saya ngambil konsentrasi aljabar yang, setelah saya riset lagi terapannya si abstract non-sense ini, ternyata banyak dipakai di bidang fisika dan salah satunya adalah mekanika kuantum. Ngomong-ngomong geometri nonkomutatif juga diterapkan di mekanika kuantum lho dan juga dipakai dalam penelitian mengenai model standar fisika partikel. Jadi bingung andai saya berkesempatan kuliah disini, saya mau ngambil riset yang mana ya? O.O
2. University of Helsinki, Finlandia
helsinki_senatsplatz_yliopiston_kirjasto_winter
Universitas Helsinki juga menjadi universitas impian saya karena kuliah disini gratis :v hehehe Gak cuman itu kok. Saya ingin kuliah disini karena disana ada grup riset logika matematika, yaitu The Helsinki Logic Group. Yang tadi aljabar (operator), kok sekarang topiknya logika matematika? Hmm… jadi gini, sekitar semester 4 atau 5 saya menekuni bidang matematika klasik, diantaranya teori bilangan, teori himpunan, geometri dan logika matematika. Dari 4 tersebut saya sangat tertarik dengan logika matematika dan teori himpunan. Kenapa? Karena gampang :v Awalnya begitu, sampai saya ketemu dengan Teori Pembuktian (Proof Theory), sub-subjek dari logika matematika dan teori himpunan. Ternyata bidang klasik ini, yang di Indonesia ‘setahu saya’ tidak ada/jarang ditekuni, ternyata sangat kompleks. Karena teori pembuktian adalah kajian yang menggabungkan aljabar, filsafat, logika matematika dan semantik sekaligus, ibarat jurusan arsitek yang menggabungkan psikologi, desain, teknik sipil dan matematika (menurut saya sih gitu). Selain itu ternyata bidang klasik ini memilki penerapan yang luas banget, salah satunya adalah kecerdasan buatan. Bener-bener subjek matematika yang gak biasa kan? Apalagi disana ada Sara Negri, salah satu expert di bidang ini yang bukunya saat ini masih saya baca (kadang-kadang), Proof Analysis dan Structural Proof Theory. Walaupun basic saya aljabar, tapi saya masih belajar sendiri logika matematika dan teori himpunan, walaupun ya tentu saja saya butuh bimbingan untuk mempelajarinya. Semoga suatu saat saya bisa di bimbing sama bu Sara Negri hehehe :3
3. University of Vienna, Austria
Austria1
Selanjutnya adalah universitas Viena di Austria, salah satu negeri indah di dunia. Alasannya mengapa saya memilih universitas Viena tidak jauh berbeda dengan ketika saya memilih universitas Wina, karena gratis :v hehehe eh gak tau juga deng, ceunah mayar oge jiga di Kopenhagen, tapi teu tarang inpona.
Univeristas Viena memiliki grup riset juga di bidang logika, bahkan semacam pusat riset gitu, namanya Kurt Godel Research Center. Fokus penelitiannya adalah teori himpunan, salah satu bidang matematika klasik yang saya sukai. Selain itu ada bidang teori model dan teori rekursi. Oh ya, ngomong-ngomong soal Kurt Godel Research Center, saking bercita-citanya ingin kuliah disini dan bertemu orang-orang hebat disana, sampai-sampai saya pasang foto gedungnya sebagai wallpaper tablet saya!
KGRC

Ini dia fotonya
Selain itu, mereka juga memiliki riset yang aktif di bidang ini, membuat Universitas Vienna menjadi semacam surga buat penelitian di bidang klasik ini.
Mungkin baru segini dulu ceritanya mengenai universitas impian saya untuk S2. Sebenarnya masih ada 3 lagi kampus yang menjadi impian saya untuk berkuliah disana, mungkin lain waktu saya akan posting lagi. Selamat malam dan selamat bermimpi :)

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Seorang sarjana matematika yang merangkap menjadi guru bimbel dan konsultan statistika untuk mencari sesuap nasi. Pecinta angka dan selalu terpaku pada pola matematis. Selalu berfikir bahwa dengan menjadi sok tau adalah motivasi terbesar untuk menjadi lebih tau. Ingin kenal lebih jauh cari di about.me/hadimaster

0 komentar:

Poskan Komentar

Your Comment, Please :D