Moral & Etika Negara Kita yang Hancur dan Budaya Konflik Negara Kita


Ya, kira-kira begitulah pandangan saya sebagai pelajar biasa memandang berbagai persoalan negeri ini yang tak kunjung selesai, bahkan semakin di per parah dengan kehancuran etika dan moral yang terekspose di berbagai media, baik media massa maupun media elektronik. Sejak dimulainya skandal Bank Century sampai skandal suporter tim nasional Indonesia yang nekat melompati pagar pembatas lapangan di menit terakhir pertandingan Indonesia melawan Oman di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, ditambah lagi dengan kelakuan para politisi kita, sebagaimana dapat kita lihat di televisi-televisi, perseteruan antara Ruhut Sitompul dan Gayus yang mulai kacau ketika ada kata 'Brengsek' yang keluar dari mulut Ruhut itu sendiri. Sungguh, hal ini menandakan bahwa negara kita memang krisis moral dan etika.


Kita tahu, negara kita terkenal dengan keramah-tamahannya di seluruh dunia, terkenal dengan murah senyumnya. Tapi sungguh ironi jika melihat beberapa kasus tadi, kita malah justru (hampir) kebalikan dari seluruh pernyataan itu, bahwa kita adalah masyarakat yang ramah-tamah? Bukankah kita seharusnya menyadari hal ini? Mengapa kita justru melenceng? Inilah yang harus di perbaiki dalam kehidupan masyarakat kita,
moral dan etika.

Apa itu moral dan apa pula itu etika? Moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan, sedangkan Etika sendiri sebagai bagian dari falsafah merupakan sistim dari prinsip-prinsip moral termasuk aturan-aturan untuk melaksanakannya. Moral dan etika pada hakekatnya merupakan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang menurut keyakinan seseorang atau masyarakat dapat diterima dan dilaksanakan secara benar dan layak. Dengan demikian prinsip dan nilai-nilai tersebut berkaitan dengan sikap yang benar dan yang salah yang mereka yakini. Dari hal ini kita bisa mengetahui bahwa moral dan etika saling berhubungan satu sama lain. Moral adalah perbuatan dan etika lah yang mengaturnya, namun jika tiada etika di dalam suatu masyarakat maka akankah moral masyarakatnya akan baik? Tentu tidak! Hal itulah yang harus diperhatikan, yaitu penataan ulang etika secara benar di masyarakat itu sendiri, dengan penanaman nilai-nilai ideologi bangsa juga nilai-nilai agama.


Mungkin yang kita persalahkan tidak hanya seseorang atau individu tertentu ataupun sekelompok orang, tapi mungkin juga budaya di Indonesia itu sendiri yang lebih cenderung ke budaya konflik. Ya, budaya negara kita yang paling terlihat adalah budaya konflik, pikiran orang Indonesia dikuasi oleh budaya konflik dan ingin untung sendiri. Kita lebih tahu cara, teknik, dan strategi berkonflik untuk keuntungan diri sendiri ketimbang cara dan strategi berkolaborasi atau bekerja sama dengan pihak lain. Seperti itulah yang terjadi diantara Ruhut dan Gayus, mereka sepertinya tidak mampu menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin dan yang mereka bisa hanyalah saling berargumen dan debat kusir berkepanjangan. Sungguh disayangkan jika wakil rakyat bersikap seperti itu karena jika melihat tingkah wakil rakyat yang 'kekanak-kanakan' itu, tidak heran jika masyarakatnya sendiri bersikap demikian juga. Hanya tahu berkonflik tanpa bisa berkolaborasi. Ini tidak boleh dibiarkan! Harus dirubah sesegera mungkin!


Mungkin benar, konflik dapat memperkuat dan mempersatukan, tapi prosesnya akan begitu lama bila yang berkonflik dalam jumlah besar, apalagi bila ada kata "masyarakat" disitu, ini akan semakin kompleks dan chaos, tidak teratur. Mengapa kita tidak mencoba untuk lebih sering berkolaborasi? Apakah hal ini susah dilakukan? Apa hal ini akan melemahkan kita? Tidak! Jika kita mau membuang egoisme kita, jika kita mau menerima perbedaan diantara kita dan membuang semua kebencian diantara kita, maka budaya kolaborasi pun akan tercipta. Jika budaya ini berkembang, niscaya negara kita kan lebih baik dari sebelumnya. Semoga.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Seorang sarjana matematika yang merangkap menjadi guru bimbel dan konsultan statistika untuk mencari sesuap nasi. Pecinta angka dan selalu terpaku pada pola matematis. Selalu berfikir bahwa dengan menjadi sok tau adalah motivasi terbesar untuk menjadi lebih tau. Ingin kenal lebih jauh cari di about.me/hadimaster

0 komentar:

Poskan Komentar

Your Comment, Please :D