Pemuda dan Politik: Suatu Pengantar



Jika kita berfikir tentang apa itu politik, maka kita akan mendapati pengertian yang tidak jauh beda dari pandangan umum: Cara, siasat, atau strategi bertindak untuk menghadapi dan menangani suatu masalah, atau ada yang bilang bahwa politik itu "busuk". Sebenarnya masih banyak lagi pengertian dari politik itu sendiri, baik secara filsafat maupun secara ilmunya langsung, yang positif maupun yang negatif. Namun tentu saja tidak setiap orang memiliki pemikiran yang terlalu umum itu, kebanyakan dari mereka adalah yang mampu menggunakan pemikiran mereka secara mandiri tanpa terlalu mengikuti aliran politik tertentu, atau ide dari satu orang yang belum tentu juga benar. Dan yang tentunya sangat aktif berfikir diantaranya adalah para pemuda. Pemuda lah yang memiliki potensi untuk berpartisipasi aktif dalam politik. Merekalah para pemuda yang menjadi tumpuan bangsanya untuk melanjutkan nasib bangsanya ini.
Mengapa harus pemuda? Karena memang yang muda lah yang harusnya memiliki ketertarikan berpolitik yang kuat, selain karena para pemuda bila dibandingkan para tetua lebih memiliki pemikiran yang cukup kritis dan berkembang lebih maju dibanding yang lain juga mereka lah calon pemimpin masa depan bangsa ini.

Mungkin beberapa orang berpendapat bahwa orang-orang muda selalu relatif apolitis atau tidak mempunyai ketertarikan untuk berpolitik. Secara psikologis
ini adalah bagian dari proses pematangan, banyak yang menyetujui hal ini. Banyak juga yang berpikir bahwa pemuda harus mulai masuk ke kehidupan dewasa yang relatif apatis terhadap politik, karena mereka belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem politik. Selain itu, banyak orang akan mengatakan, pemuda tidak memiliki pengalaman yang layak dan kepercayaan diri yang diperlukan untuk membuat kontribusi yang layak untuk politik. Tapi semua ini tentunya bisa dirubah asalkan adanya kemauan dari dirinya sendiri dan orang sekitar yang kiranya dapat membimbingnya.

Bagaimana caranya? Ya tentunya melalui berbagai tahap tertentu agar pengenalan pemuda itu sendiri terhadap politik tidak nyeleneh. Pertama, hal yang harus dilakukan dalam pengenalan terhadap pemuda itu sendiri adalah melalui agen sosialisasi paling pertama, yaitu keluarga. Hal ini dikarenakan bahwa pada dasarnya setiap orang terlahir di dunia ini pasti lebih dulu bersosialisasi dengan keluarga, dan di dalam keluarga itu juga dia akan mulai belajar tentang apa itu keluarga, siapa saja anggotanya dan siapa pemimpin keluarga tersebut. Tentunya di dalam keluarga juga diajarkan apa itu otoritas dan peraturan di keluarganya juga kebebasan dalam memilih layaknya demokrasi. Setelah agen sosialisasi keluarga baru setelahnya mulai ke teman bermain/teman sebaya, lalu sekolah/pendidikan dan media massa.

Yang kedua, yang paling penting dalam pengenalan politik kepada orang-orang muda adalah dengan memberi mereka pengertian politik secara lebih jauh dan mencoba mengembangkan pemikiran kreatif mereka untuk membentuk pengertiannya sendiri tentang politik. Selama ini para pemuda atau siswa di sekolah-sekolah pada umumnya tidak terlalu dikembangkan pola pikirnya secara matang mengenai politik atau teori-teori politik oleh para pengajar atau pembimbing. Biasanya mereka hanya disuruh menghapal tanggal bersejarah, nama tokoh dan teori-teori tertentu yang tidak terlalu penting, padahal andaikan mereka dikembangkan cara berfikirnya, seperti mengkritisi suatu teori atau berargumen dengan pemikirannya sendiri dan memberikan solusi untuk suatu problem solving tertentu. Jika pemuda dididik dengan cara yang sekarang, saya khawatir akan muncul beberapa budaya politik pada para pemuda yang cenderung parokial, tidak peduli dengan politik. Padahal sebagaimana yang kita tahu, bahwa peran pemuda sangat besar dalam kemajuan bangsa ini. Apa jadinya jika para pemuda tidak terlalu berpartisipasi dalam berpolitik? Jika hal ini sampai terjadi, maka pemerintahan akan dipegang oleh orang-orang bodoh sebagaimana kata Plato. Maka dari itu, agar tidak terjadi hal seperti itu, alangkah lebih baiknya pengenalan terhadap politik harus harus lebih melibatkan proses berpikir yang baik, bukan sekadar mengenal saja.

Sebenarnya masih ada penjelasan yang lebih jauh tentang Pemuda dan Politik, mungkin akan saya lanjutkan ke tulisan berikutnya. Yang saya harapkan dari tulisan ini adalah setidaknya memberi manfaat meskipun itu sangat kecil. Semoga.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Seorang sarjana matematika yang merangkap menjadi guru bimbel dan konsultan statistika untuk mencari sesuap nasi. Pecinta angka dan selalu terpaku pada pola matematis. Selalu berfikir bahwa dengan menjadi sok tau adalah motivasi terbesar untuk menjadi lebih tau. Ingin kenal lebih jauh cari di about.me/hadimaster

0 komentar:

Poskan Komentar

Your Comment, Please :D